Tugas Guru tak Hanya Mengajar, tapi Mendidik

Tugas Guru tak Hanya Mengajar, tapi Mendidik
Tawuran pelajar (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, PURBALINGGA – Pengamat pendidikan Darmaningtyas mengatakan tugas guru bukan sekadar mengajar atau menanamkan aspek akademik, tetapi juga mendidik dan mempersiapkan anak didiknya agar mampu menyelesaikan persoalan kehidupannya secara mandiri dan positif.

“Para guru tak harus khawatir kehilangan kewibawaan jika akrab dengan peserta didiknya. Guru yang menjaga jarak dengan muridnya untuk alasan kewibawaan, sesungguhnya sedang menutupi kekurangan atau kelemahannya,” kata dia di Purbalingga, Senin (1/10).

Darmaningtyas mengatakan hal ini usai menjadi pembicara dalam Lokakarya Peningkatan Kualitas Pendidikan Kabupaten Purbalingga Tahun 2012 di Ruang Ardi Lawet Sekretariat Daerah Purbalingga.

Terkait kasus penusukan yang dilakukan seorang siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Rembang, Purbalingga, kepada temannya hingga tewas, dia mengatakan, kasus penusukan yang dilakukan oleh Nur sehingga menewaskan Muhamad Ardian sebenarnya tidak akan terjadi jika terdapat pola relasi dan komunikasi yang baik antara guru dan anak didik.

“Kalau melihat latar belakang keluarga Nur, kita tidak bisa mengharapkan adanya pola komunikasi yang baik antara Nur dengan keluarganya,” kata dia yang juga anggota Dewan Penasihat ‘Center for The Betterment of Education’ (CBE).

Akan tetapi, kata dia, Nur akan tertolong jika pihak sekolah terutama para guru memiliki pola relasi yang baik dengan murid. Dalam hal ini, lanjutnya, guru menjadikan murid sebagai kawan sehingga anak didik pun tidak sungkan ‘curhat’ dengan gurunya.

Ia mengatakan Nur yang selama ini menjadi objek ‘bullying‘ (kekerasan, red.) berupa ejekan, hanya bisa memendam semua persoalannya sendiri. Menurut dia, kondisi tersebut diperparah dengan tayangan berita-berita kriminal di media massa yang secara tidak langsung memengaruhi alam

bawah sadar untuk melakukan tindak kejahatan dalam menyelesaikan suatu persoalan.

“Kalau Nur ini memiliki guru yang akrab dan mau menjadikannya seperti kawan, dia pasti akan menyampaikan keluhannya pada gurunya itu. Gurunya tak mungkin tinggal diam, dia pasti akan membantu memecahkan persoalan sehingga tidak akan sampai terjadi kasus seperti ini,” katanya.

Oleh karena itu, kata dia, pihak sekolah harus membuka mata dan telinga lebar-lebar terhadap kemungkinan adanya indikasi kasus ‘bullying‘ yang menimpa anak didiknya karena kasus kekerasan ini tetap akan memakan korban jiwa maupun raga, baik pada pelaku maupun korban. “Bahkan, tak sedikit kasus bunuh diri yang dipicu ‘bullying’,” katanya.

Seperti diketahui, seorang siswa SMPN 2 Rembang, Purbalingga, Muhammad Ardian meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit akibat luka tusuk di punggung setelah berkelahi dengan rekannya Nur pada Sabtu (22/9) silam.

 (admin: effendyakmal)
Pos ini dipublikasikan di Berita Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s