Kualitas Memble, TP Guru Bisa Distop

JAKARTA – Tudingan bahwa kualitas guru bersertifikat masih pas-pasan, terus bermunculan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pun tidak ingin cap tersebut terus melekat. Karena itu, lembaga ini menyiapkan program peningkatan kualitas guru bersertifikat.

Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud Khairil Anwar Notodiputro mengatakan, penyiapan program ini masih belum tuntas 100 persen. Tapi, pihaknya sudah menemukan skemanya.

Evaluasi itu nantinya akan diterapkan kepada guru-guru yang telah lulus sertifikasi periode awal-awal. Sejak digulirkan 2006 silam, program sertifikasi guru sudah menelorkan jutaan guru bersertifikat. “Program evaluasi ini nantinya akan berjalan setahun penuh,” katanya. Menurut Khairil, dengan program evaluasi ini, akan benar-benar diketahui kelemahan atau penyebab kualitas guru bersertifikat tidak kunjung membaik.

Dalam setiap evaluasi nanti akan ada ujian lagi. Jika selama setahun mengikuti program perbaikan kualitas, tidak kunjung membaik, maka pencairan tunjangan profesi (TP) akan distop dulu. “Tunjangan ini distop sementara. Jika nanti kualitas guru kembali bagus, akan dicairkan lagi,” kata dia.

Dia sadar jika dijalankan kelak, kebijakan ini berpeluang menimbulkan persoalan baru. Guru-guru yang sudah merasa nyaman, karena mendapatkan gaji dobel, akan resah karena tunjangan mereka terancam dihentikan sementara. Namun, guru juga harus sadar bahwa TP diberikan harus diimbangi dengan peningkatan kualitas.

Rencana ini disambut baik Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). “Evaluasi perlu. Tapi tidak perlu sampai menghentikan pemberian tunjangan,” kata Ketua Umum PB PGRI Sulistyo.

Menurutnya, para guru bersertifikat memang wajib meningkatkan kualitas bidang pembelajaran. Sehingga, bisa menurunkan pandangan miring dari masyarakat jika guru bersertifikat hanya mengejar TP.

Pria yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) itu menuturkan, pemerintah seharusnya juga perlu membuat semacam aturan penggunaan TP yang sudah dipegang guru. Selama ini masih banyak guru yang menggunakan TP untuk menutup utang. Belum banyak guru yang benar-benar menggunakan TP untuk meningkatkan kemampuan.

Seharusnya, tutur Sulistyo, TP diberikan supaya guru bisa mengikuti program-program atau kegiatan yang bisa mendongkrak skill mengajar mereka. Misalnya ikut pelatihan, seminar, hingga menjalankan atau membuat penelitian-penelitian. (wan/nw)

(admin: fendya)
Pos ini dipublikasikan di Berita Pendidikan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s