Apa Jadinya jika Bimbel Gantikan Pelajaran Sekolah?

JAKARTA, KOMPAS.com – Kehadiran lembaga-lembaga bimbingan belajar (bimbel) berperan melengkapi pendidikan sekolah. Namun, apa jadinya jika bimbel mengambil peran pendidikan formal dengan menggantikan pelajaran sekolah?

Pertanyaan ini diajukan oleh Retno Listyarti, Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) dalam diskusi di Kedai Tempo, Utan Kayu, Jakarta Timur, Senin (17/10/2011).

“Bimbel sekarang sudah masuk sekolah bukan hanya sebagai kegiatan ekstrakurikuler, tapi sudah masuk jam pelajaran efektif, bahkan menggantikan pelajaran sekolah,” ungkap Retno.

Pengajar di SMAN 13 JAkarta ini mencontohkan, dengan alasan persiapan UN, jam pelajaran bidang studi non-UN dialihkan menjadi pelajaran bimbel. Padahal, bahan yang disajikan dalam bimbel sangat jauh dari kurikulum nasional.

“Itu kan isinya cuma latihan soal. Pendidikan kita akhirnya hanya berorientasi pada persiapan ujian, latihan soal, menghafal, dan memprediksi soal, tidak lebih,” kritik Retno.

Ia mengaku heran melihat tidak adanya protes dari guru-guru yang jam pelajarannya diganti dengan pelajaran bimbel. Retno melihat sebagian rekan seprofesinya justru tidak merasa rugi bila kehilangan kesempatan mengajar. Sebagian lainnya kemungkinan merasa takut akan mendapat sanksi dari atasan bila menentang kebijakan tersebut.

Kehadiran Bimbel di sekolah sudah berlangsung selama sepuluh tahun terakhir. Praktik tersebut, lanjut Retno, bahkan dimulai oleh sekolah-sekolah favorit.

“Alasannya untuk mendongkrak hasil UN,” terang Retno.

Kebijakan tersebut kemudian menular ke sekolah-sekolah lainnya yang mengejar tujuan sama. Fakta tersebut menguatkan adanya parodi dalam dunia pendidikan Indonesia.

Menurutnya, pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter yang digagas Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh jelas-jelas terpinggirkan oleh orientasi pada nilai dan hasil jangka pendek dari UN. Alhasil, seluruh fokus pendidikan nasional terarah pada persiapan UN.

“Murid diciptakan untuk menjadi robot, mengasah hafalan untuk menjawab pertanyaan, pendidikan menjadi satu arah,” kritik Retno.

Tidak hanya itu, pelajaran sekolah pun hanya terfokus pada mata pelajaran tertentu yang termasuk bidang studi UN. Sementara itu, mata pelajaran lain hanya menjadi pelengkap untuk sekadar memenuhi tuntutan kurikulum.

Sumber:http://edukasi.kompas.com/

Pos ini dipublikasikan di Berita Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s