Diagnosis Guru Sakit

Suheri

Guru SMAN Sukadana, Lampung Timur

Ahmad Baedowi dalam Lampost edisi 24 Mei 2011 menulis opini tentang 13 Penyakit Guru, yang penyakit itu mulanya gurauan melalui SMS dan bernada humor. Dalam perkembangannya saat ini penyakit itu justru dijadikan bahan olok-olok, ejekan, juga sindiran antarguru yang salah satunya terjangkit gejala penyakit tersebut. Sebagai contoh, guru yang kerap terlambat datang ke sekolah atau terlambat masuk kelas, akan disebut si Kudis (kurang disiplin) atau Stroke (suka terlambat rupanya kebiasaan), guru yang sering izin disebut terkena Batuk (banyak alasan tidak masuk).

Untuk meyakinkan bila gejala penyakit itu telah menyerang guru atau belum, penulis secara sederhana membuat analisis yang berupa kumpulan pertanyaan agar guru secara jujur melakukan refleksi diri (self reflection) untuk mengetahui dirinya telah terjangkit penyakit tersebut atau tidak. Pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan, cukup dijawab oleh guru dengan pilihan “Ya” atau “Tidak”. Pertanyaan tersebut terdiri dari dua puluh pertanyaan yang mewakili kompetensi pedagogis, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional (merujuk kepada Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru), dan 13 di antaranya mengutip pendapat Ahmad Baedowi.

Seluruh pertanyaan diawali dengan kata, “Apakan Anda terserang gejala?”

Berikut lanjutan dari pertanyaan tersebut: 1. Kusta (kurang strategi), 2. Kurap (kurang persiapan), 3. Demmam (ditanya emosi, malah menyalahkan murid), 4. THT (tukang hitung transport), 5. Hipertensi (hiruk persoalan tentang sertifikasi), 6. Kudis (kurang disiplin), 7. Asma (asal masuk), 8. Asam urat (asal mengajar kurang akurat), 9. Stroke (suka terlambat rupanya kebiasaan), 10. Batuk (banyak alasan tidak masuk), 11. Mabuk (mau bekerja untuk kepala), 12. Bisul (bicaranya sedikit-sedikit uang lelah), 13. Salesma (sangat lemah sekali membacanya), 14. Keram (kurang terampil), 15. Mual (mutu amat lemah), 16. TBC (tidak bisa computer), 17. Gaptek (Gagap teknologi), 18. Flu (Fobia, lemah ilmu), 19. THT Akut (tidak hirau teknologi alasan karena usia tua), 20. Rabies (rabun baca, alergi menulis).

Pertanyaan nomor 1—3 merujuk pada kompetensi pedagogis, pertanyaan nomor 4—12 merujuk pada kompetensi kepribadian, dan pertanyaan nomor 13—20 merujuk pada kompetensi profesional. Kemudian dari dua puluh pertayaan tersebut, dibagi ke dalam empat tingkatan stadium. Stadium 1, bila jawaban “Ya” 1—4, stadium 2, bila jawaban “Ya” 5—9, stadium 3, bila jawaban “Ya” 10—15, dan stadium 4, bila jawaban “Ya” 16—20.

Setelah guru mengetahui dirinya dalam stadium mana, maka tergambarlah kompetensi yang harus ditingkatkan sebagai upaya menghilangkan gejala penyakit tersebut. Guru stadium 1, maka mulai siaga sebab sudah terdapat gejala penyakit kompetensi pedagogis, kepribadian, maupun profesional. Guru stadium 2, maka berhati-hati karena Anda telah banyak terserang gejala penyakit baik dalam kompetensi pedagogis, kepribadian, dan profesional. Guru stadium 3, sudah harus waspada sebab penyakit yang Anda idap sudah mendekati akut, diperlukan upaya yang sungguh-sungguh untuk menyembuhkan diri agar kembali mempunyai kompetensi pedagogis, kepribadian, dan profesional yang diharapkan. Guru dalam stadium 4, tampaknya penyakit yang Anda idap sudah kronis, perlu dioperasi dan dibutuhkan usaha sangat keras untuk menyembuhkannya.

Sebagai acuan, bila guru penyakitnya pada kompetensi pedagogis, upaya yang dilakukan adalah harus lebih memahami karakter siswa, kesulitan belajar siswa, memahami gaya belajar siswa, membaca lagi teori-teori belajar, psikologi perkembangan, psikologi anak, menajamkan strategi, metode, teknik pembelajaran, memahami perkembangan kurikulum, silabus, RPP, sistem penilaian, metode dan media pembelajaran, terbuka terhadap kritik, dan pendapat siswa.

Jika penyakitnya pada kompetensi kepribadian, guru mesti menghargai siswa, jujur, tegas, memiliki etos kerja dan tanggung jawab, mandiri, disiplin, profesional, dan mempunyai nilai lebih bila menjadi inspirasi peserta didik. Kalau berpenyakit pada kompetensi profesional, harus memahami SKL, KTSP, menguasai konsep, materi mata pelajaran ang diampu, melakukan refleksi hasil pekerjaannya sendiri, mengejar ketertinggalan dalam Iptek, selalu belajar dari berbagai sumber, memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran, membaca dan lalu menulis di media massa, paling tidak membuat penelitian setingkat penelitian tindakan kelas (PTK), umur bukan alasan untuk belajar, bila konsisten menerapkan konsep belajar sepanjang hayat (long life education), belajar mulai buaian hingga liang kubur.

Guru yang tidak satu pun menjawab “Ya” pertanyaan tersebut, itu artinya Anda adalah guru yang sehat, terbebas dari penyakit. Anda memiliki kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial, dan profesional yang baik. Anda guru profesional, tunjangan profesi yang Anda terima, sepadan dengan kualitas diri Anda. Perlu selalu dijaga secara konsisten kesehatan Anda agar gejala-gejala penyakit yang mungkin menyerang rekan guru tidak menular kepada Anda.

Andai guru (maaf, berpenyakit salesma atau rabies) membaca tulisan ini setelah itu berlomba-lomba menulis kritik, sanggahan, komentar, kemudian mengirimkan kepada Lampung Post, itu menunjukkan yang bersangkutan sedang mengobati diri sendiri agar sembuh dari penyakit yang dideritanya. Semoga. n

Sumber: http://www.lampungpost.com
(admin: effendya )
Pos ini dipublikasikan di Berita Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s