Beginilah (seharusnya) Guru Indonesia

oleh: Johan Wahyudi

Saat ini, kebanyakan guru hanya menjadi pengajar, yaitu mengajarkan pelajaran kepada para siswa. Guru hanya mentransfer atau memindahkan pengetahuan dalam pikiran dan buku untuk ditiru sehingga dikuasai siswanya. Akibatnya, gurupun hanya berorientasi untuk menyampaikan materi pelajaran. Tidak lebih dari itu. Memperhatikan kondisi demikian, para guru lebih berkeinginan untuk menjadi pengajar daripada pendidik.

Memang menjadi pengajar itu mudah. Sangat mudah. KBBI (2008:23) mendefinisikan mengajar sebagai kegiatan memberi pelajaran. Kata mengajar berasal dari kata ”ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui atau dituruti. Jika makna mengajar hanya demikian, tentu kondisi ini sangat berbahaya. Guru tidak lagi memperhatikan aspek-aspek humanisme para siswanya. Karena hanya bertujuan menyampaikan pelajaran, guru hanya mengejar ketercapaian kurikulum. Jika semua isi kurikulum sudah disampaikan, gurupun beranggapan bahwa tugasnya sudah selesai. Menurut saya, pikiran ini milik pekerja pabrik!

Guru tidak boleh bertujuan semata menyampaikan pelajaran. Guru harus menjadi pribadi yang layak dicontoh. Guru harus menjadi figur yang mampu menginspirasi dan memotivasi siswanya. Karena guru juga menjadi pendidik.

KBBI (2008:326) mengartikan mendidik sebagai memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Berdasarkan definisi tersebut, kita dapat mengetahui aspek-aspek yang harus dimiliki sebagai seorang guru. Jadi, menjadi guru harus mampu menjadi pemelihara dan harus mampu menjadi pelatih tentang akhlak dan kecerdasan.

Untuk menjadi pemelihara, guru harus menguasai kompetensinya secara profesional. Pemelihara bersinonimi dengan penjaga. Artinya, penguasaan ilmu pengetahuan harus terjaga, baik kualitas maupun kuantitas. Guru harus berusaha meningkatkan kualitas dirinya. Peningkatan kualitas dapat diraih dengan rajin melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dan membaca buku. Peningkatan kualitas diri pun dapat diperoleh dengan mengikuti pendidikan berjenjang dan pelatihan.

Tugas terberat guru adalah menjadi pelatih akhlak dan kecerdasan. Akhlak itu melekat pada diri seseorang. Akhlak tecermin dari perilaku keseharian. Karena menjadi pelatih, semua perilaku guru merupakan cerminan penguasaan pelajaran yang dibungkus dengan kesantunan sikap, hati dan pikirannya. Itulah wujud pikiran cerdas seorang guru. Jika sikap itu dimiliki 1% guru Indonesia, bangsa ini akan menjadi bangsa maju sebagai pesaing utama bangsa maju dunia. Saya yakin itu masih mampu kita wujudkan.

Menjadi guru merupakan inspirasi dari ayahanda almarhum. Meskipun hanya menjadi guru SD, ayahanda begitu menginspirasiku untuk meneladaninya. Satu keistimewaan profesi ini: keberkahan rezeki yang diperolehnya. Inilah yang menjadi dasar dan alasan utama saya untuk menjadi seorang guru.

Pada awalnya, aku mempunyai kebanggaan yang luar biasa sebagai guru. Profesi ini begitu dihormati di kampungku. Setiap berpapasan dengan masyarakat, mereka selalu menyebutnya mas guru. Pada akhirnya, kehormatanpun diperoleh tanpa meminta dihormati.

Kini, aku telah menekuni profesi ini sepuluh tahun lebih. Berdasarkan pengalaman ini, aku mulai menemukan titik-titik kelebihan dan hambatannya. Kelebihan sebagai guru dapat dilihat dari keluhuran profesi ini. Dengan jiwa pengabdian yang tertanam, setiap guru telah mencerdaskan generasi bangsa ini. Semangat guru memang perlu diacungi dua jempol. Mereka begitu bersemangat untuk mengabdikan diri demi kemajuan bangsa ini.

Seiring dengan kemajuan zaman, semangat pengabdian ini mulai meluntur. Para guru mulai bergeser semangatnya. Mereka mulai mempertimbangkan untung-rugi setiap waktu yang digunakannya. Mereka benar-benar tidak mau merugi secara finansial. Oleh sebab itu, jadilah guru yang hanya bertujuan mengejar materi. Mereka tidak lagi menghayati profesi ini.

Wahai guru Indonesia, ayolah menjadi pendidik yang baik dan jangan hanya menjadi semata pengajar. Yakinlah bahwa rezeki kita akan menjadi berkah manakala niatan itu tulus dari ketuk hati terdalam. Marilah kita mengembalikan niatan mulia ini sedari semula!

Selamat pagi dan selamat mendidik anak bangsa. Semoga tulisan ini bermanfaat. Amin. Terima kasih.

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/

Pos ini dipublikasikan di Berita Pendidikan, Kompetensi Paedagogik. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s