Kompetensi Paedagogik

Tugas Guru Mata Pelajaran

A. Ruang Lingkup Kerja Guru

Tugas Guru Mata PelajaranKewajiban guru sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 74 tentang Guru Pasal 52 ayat (1) mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan tugas pokok. Dalam penjelasan Pasal 52 ayat (1) huruf (e), yang dimaksud dengan “tugas tambahan”, misalnya menjadi pembina pramuka, pembimbing kegiatan karya ilmiah remaja, dan guru piket.

Dalam melaksanakan tugas pokok yang terkait langsung dengan proses pembelajaran, idealnya guru hanya melaksanakan tugas mengampu 1 (satu) jenis mata pelajaran saja sesuai dengan kewenangan yang tercantum dalam sertifikat pendidiknya. Disamping itu, guru juga akan terlibat dalam kegiatan manajerial sekolah/madrasah antara lain penerimaan siswa baru (PSB), penyusunan kurikulum dan perangkatnya, Ujian Nasional (UN), ujian sekolah, dan kegiatan lain. Tugas guru dalam manajemen sekolah/madrasah tersebut secara spesifik ditentukan oleh manajemen sekolah/madrasah tempat guru bertugas.

B. Jam Kerja

Peraturan Pemerintah Nomor 74 tentang Guru Pasal 52 ayat (2) menyatakan bahwa beban kerja guru paling sedikit memenuhi 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan paling banyak 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu pada satu atau lebih satuan pendidikan yang memiliki izin pendirian dari Pemerintah atau Pemerintah Daerah. Alokasi waktu tatap muka pada tiap jenjang pendidikan berbeda, pada jenjang TK satu jam tatap muka dilaksanakan selama 30 menit, pada jenjang SD 35 menit, pada jenjang SMP 40 menit, sedangkan pada jenjang SMA dan SMK selama 45 menit. Beban kerja guru untuk melaksanakan kegiatan tatap muka tersebut merupakan bagian dari jam kerja sebagai pegawai yang secara keseluruhan paling sedikit 37,5 (tiga puluh tujuh koma lima) jam kerja (@ 60 menit) dalam 1 (satu) minggu.

Lebih lanjut Pasal 52 ayat (3) menyatakan bahwa pemenuhan beban kerja tersebut dilaksanakan dengan ketentuan paling sedikit 6 (enam)jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu pada satu satuan pendidikan tempat tugasnya sebagai guru tetap.

Kegiatan tatap muka guru dialokasikan dalam jadwal pelajaran mingguan yang dilaksanakan secara terus-menerus selama paling sedikit 1 (satu) semester. Kegiatan tatap muka dalam satu tahun dilakukan kurang lebih 38 minggu atau 19 minggu dalam 1 (satu) semester. Khusus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ada kalanya jadwal pelajaran tidak disusun secara mingguan, tapi menggunakan sistem blok atau perpaduan antara sistem mingguan dan blok. Pada kondisi ini, maka jadwal pelajaran disusun berbasis semesteran, tahunan, atau bahkan dalam 3 (tiga) tahunan.

C. Pengertian Tatap Muka

Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, bagian penjelasan Pasal 52 ayat (2) menyatakan bahwa istilah tatap muka berlaku untuk pelaksanaan beban kerja guru yang terkait dengan pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian yang dapat dihitung sebagai tatap muka guru adalah alokasi jam mata pelajaran dalam 1 (satu) minggu yang tercantum dalam struktur kurikulum sekolah/ madrasah.

D. Uraian Tugas Guru Mata Pelajaran/Guru Kelas

Jenis tugas guru sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru Pasal 52 dapat dikategorikan sebagai kegiatan tatap muka atau bukan tatap muka seperti yang tercantum dalam Tabel 1. di bawah ini.

Tabel 1. Kategori Jenis Kerja Guru

Nomor Jenis Kerja Guru Tatap Muka Bukan Tatap Muka
1. Merencanakan Pembelajaran V
2. Melaksanakan Pembelajaran V
3. Menilai Hasil Pembelajaran V* V**
4. Membimbing & Melatih Peserta Didik V*** V****
5. Melaksanakan Tugas Tambahan V

Keterangan:

*     =   menilai hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara terintegrasi dengan tatap muka seperti ulangan harian

**   =   menilai hasil pembelajaran yang dilaksanakana dalam waktu tertentu seperti ujian tengah semester dan akhir semester

*** =   membimbing dan melatih peserta didik yang dilaksanakan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran/tatap muka

membimbing dan melatih peserta didik yang dilaksanakan pada kegiatan pengembangan diri / ekstrakurikuler

Uraian jenis kerja guru tersebut di atas adalah sebagai berikut:

a. Merencanakan Pembelajaran

Guru wajib membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada awal tahun atau awal semester, sesuai dengan rencana kerja sekolah/madrasah.

b. Melaksanakan Pembelajaran

Melaksanakan pembelajaran merupakan kegiatan interaksi edukatif antara peserta didik dengan guru. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan tatap muka sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Penjelasan kegiatan tatap muka adalah sebagai berikut:

  • Kegiatan tatap muka atau pembelajaran terdiri dari kegiatan penyampaian materi pelajaran, membimbing dan melatih peserta didik terkait dengan materi pelajaran, dan menilai hasil belajar yang terintegrasi dengan pembelajaran dalam kegiatan tatap muka,
  • Menilai hasil belajar yang terintegrasi dalam proses pelaksanaan pembelajaran tatap muka antara lain berupa penilaian akhir pertemuan atau penilaian akhir tiap pokok bahasan merupakan bagian dari kegiatan tatap muka,
  • Kegiatan tatap muka dapat dilakukan secara langsung atau termediasi dengan menggunakan media antara lain video, modul mandiri, kegiatan observasi/eksplorasi,
  • Kegiatan tatap muka dapat dilaksanakan antara lain di ruang teori/kelas, laboratorium, studio, bengkel atau di luar ruangan,
  • Waktu pelaksanaan kegiatan pembelajaran atau tatap muka sesuai dengan durasi waktu yang tercantum dalam struktur kurikulum sekolah/madrasah

Sebelum pelaksanaan kegiatan tatap muka, guru diharapkan melakukan persiapan, antara lain pengecekan dan/atau penyiapan fisik kelas/ruangan, bahan pelajaran, modul, media, dan perangkat administrasi.

c. Menilai Hasil Pembelajaran

Menilai hasil pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Melalui penilaian hasil pembelajaran diperoleh informasi yang bermakna untuk meningkatkan proses pembelajaran berikutnya serta pengambilan keputusan lainnya. Menilai hasil pembelajaran dilaksanakan secara terintegrasi dengan tatap muka seperti ulangan harian dan kegiatan menilai hasil belajar dalam waktu tertentu seperti ujian tengah semester dan akhir semester.

Pelaksanaan penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan nontes. Penilaian nontes dapat berupa pengamatan dan pengukuran sikap serta penilaian hasil karya dalam bentuk tugas, proyek fisik atau produk jasa.

1) Penilaian dengan tes.

  • Tes dilakukan secara tertulis atau lisan, dalam bentuk ulangan harian, tengah semester, dan ujian akhir semester. Tes ini dilaksanakan sesuai dengan kalender pendidikan atau jadwal yang telah ditentukan.
  • Tes tertulis dan lisan dilakukan di dalam kelas.
  • Pengolahan hasil tes dilakukan di luar jadwal pelaksanaan tes.

2) Penilaian nontes berupa pengamatan dan pengukuran sikap.

  • Pengamatan dan pengukuran sikap sebagai bagian tidak terpisahkan dari proses pendidikan, dilaksanakan oleh guru dengan tujuan untuk melihat hasil pendidikan yang tidak dapat diukur dengan tes tertulis atau lisan.
  • Pengamatan dan pengukuran sikap dapat dilakukan di dalam kelas menyatu dengan proses tatap muka, dan atau di luar kelas.
  • Pengamatan dan pengukuran sikap yang dilaksanakan di luar kelas merupakan kegiatan di luar jadwal tatap muka.

3) Penilaian nontes berupa penilaian hasil karya.

  • Penilaian hasil karya peserta didik dalam bentuk tugas, proyek fisik atau produk jasa, portofolio, atau bentuk lain dilakukan di luar jadwal tatap muka.
  • Adakalanya dalam penilaian ini, guru harus menghadirkan peserta didik agar untuk menghindari kesalahan pemahaman dari guru, jika informasi dari peserta didik belum sempurna.

d. Membimbing dan Melatih Peserta Didik

Membimbing dan melatih peserta didik dibedakan menjadi tiga kategori yaitu membimbing atau melatih peserta didik dalam proses tatap muka, intrakurikuler, dan ekstrakurikuler.

1) Bimbingan dan latihan pada proses tatap muka

Bimbingan dan latihan pada kegiatan pembelajaran adalah bimbingan dan latihan yang dilakukan agar peserta didik dapat mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.

2) Bimbingan dan latihan pada kegiatan intrakurikuler

  • Bimbingan dalam kegiatan intrakurikuler terdiri dari pembelajaran perbaikan (remedial teaching) dan pengayaan (enrichment) pada mata pelajaran yang diampu guru.
  • Kegiatan pembelajaran perbaikan merupakan kegiatan bimbingan dan latihan kepada peserta didik yang belum menguasai kompetensi yang harus dicapai.
  • Kegiatan pengayaan merupakan kegiatan bimbingan dan latihan kepada peserta didik yang telah menguasai kompetensi yang ditentukan lebih cepat dari alokasi waktu yang ditetapkan dengan tujuan untuk memperluas atau memperkaya perbendaharaan kompetensi.
  • Bimbingan dan latihan intrakurikuler dilakukan dalam kelas pada jadwal khusus, disesuaikan dengan kebutuhan, tidak harus dilaksanakan dengan jadwal tetap setiap minggu.

3) Bimbingan dan latihan dalam kegiatan ekstrakurikuler.

  • Kegiatan ekstrakurikuler bersifat pilihan dan wajib diikuti peserta didik.
  • Kegiatan ekstrakurikuler dilakukan sesuai jadwal yang telah ditentukan.
  • Jenis kegiatan ekstrakurikuler antara lain adalah:

Pramuka,
Olimpiade/Lomba Kompetensi Siswa,
Olahraga, – Kesenian
Karya Ilmiah Remaja,
Kerohanian, – Paskibra,
Pecinta Alam,
Palang Merah Remaja (PMR),
Jurnalistik,
Unit Kesehatan Sekolah (UKS),
Fotografi,

e. Melaksanakan Tugas Tambahan

Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru Pasal 24 ayat (7) menyatakan bahwa guru dapat diberi tugas tambahan sebagai kepala satuan pendidikan, wakil kepala satuan pendidikan, ketua program keahlian satuan pendidikan, pengawas satuan pendidikan, kepala perpustakaan, kepala laboratorium, bengkel, atau unit produksi. Selanjutnya, sesuai dengan isi Pasal 52 ayat (1) huruf e, guru dapat diberi tugas tambahan yang melekat pada tugas pokok misalnya menjadi pembina pramuka, pembimbing kegiatan karya ilmiah remaja, dan guru piket.

Sumber:

Depdiknas. 2009.  Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru dan Pengawas: Jakarta, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Sumber: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/

Categories: Kompetensi Paedagogik | Tinggalkan komentar

Beginilah (seharusnya) Guru Indonesia

oleh: Johan Wahyudi

Saat ini, kebanyakan guru hanya menjadi pengajar, yaitu mengajarkan pelajaran kepada para siswa. Guru hanya mentransfer atau memindahkan pengetahuan dalam pikiran dan buku untuk ditiru sehingga dikuasai siswanya. Akibatnya, gurupun hanya berorientasi untuk menyampaikan materi pelajaran. Tidak lebih dari itu. Memperhatikan kondisi demikian, para guru lebih berkeinginan untuk menjadi pengajar daripada pendidik.

Memang menjadi pengajar itu mudah. Sangat mudah. KBBI (2008:23) mendefinisikan mengajar sebagai kegiatan memberi pelajaran. Kata mengajar berasal dari kata ”ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui atau dituruti. Jika makna mengajar hanya demikian, tentu kondisi ini sangat berbahaya. Guru tidak lagi memperhatikan aspek-aspek humanisme para siswanya. Karena hanya bertujuan menyampaikan pelajaran, guru hanya mengejar ketercapaian kurikulum. Jika semua isi kurikulum sudah disampaikan, gurupun beranggapan bahwa tugasnya sudah selesai. Menurut saya, pikiran ini milik pekerja pabrik!

Guru tidak boleh bertujuan semata menyampaikan pelajaran. Guru harus menjadi pribadi yang layak dicontoh. Guru harus menjadi figur yang mampu menginspirasi dan memotivasi siswanya. Karena guru juga menjadi pendidik.

KBBI (2008:326) mengartikan mendidik sebagai memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Berdasarkan definisi tersebut, kita dapat mengetahui aspek-aspek yang harus dimiliki sebagai seorang guru. Jadi, menjadi guru harus mampu menjadi pemelihara dan harus mampu menjadi pelatih tentang akhlak dan kecerdasan.

Untuk menjadi pemelihara, guru harus menguasai kompetensinya secara profesional. Pemelihara bersinonimi dengan penjaga. Artinya, penguasaan ilmu pengetahuan harus terjaga, baik kualitas maupun kuantitas. Guru harus berusaha meningkatkan kualitas dirinya. Peningkatan kualitas dapat diraih dengan rajin melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dan membaca buku. Peningkatan kualitas diri pun dapat diperoleh dengan mengikuti pendidikan berjenjang dan pelatihan.

Tugas terberat guru adalah menjadi pelatih akhlak dan kecerdasan. Akhlak itu melekat pada diri seseorang. Akhlak tecermin dari perilaku keseharian. Karena menjadi pelatih, semua perilaku guru merupakan cerminan penguasaan pelajaran yang dibungkus dengan kesantunan sikap, hati dan pikirannya. Itulah wujud pikiran cerdas seorang guru. Jika sikap itu dimiliki 1% guru Indonesia, bangsa ini akan menjadi bangsa maju sebagai pesaing utama bangsa maju dunia. Saya yakin itu masih mampu kita wujudkan.

Menjadi guru merupakan inspirasi dari ayahanda almarhum. Meskipun hanya menjadi guru SD, ayahanda begitu menginspirasiku untuk meneladaninya. Satu keistimewaan profesi ini: keberkahan rezeki yang diperolehnya. Inilah yang menjadi dasar dan alasan utama saya untuk menjadi seorang guru.

Pada awalnya, aku mempunyai kebanggaan yang luar biasa sebagai guru. Profesi ini begitu dihormati di kampungku. Setiap berpapasan dengan masyarakat, mereka selalu menyebutnya mas guru. Pada akhirnya, kehormatanpun diperoleh tanpa meminta dihormati.

Kini, aku telah menekuni profesi ini sepuluh tahun lebih. Berdasarkan pengalaman ini, aku mulai menemukan titik-titik kelebihan dan hambatannya. Kelebihan sebagai guru dapat dilihat dari keluhuran profesi ini. Dengan jiwa pengabdian yang tertanam, setiap guru telah mencerdaskan generasi bangsa ini. Semangat guru memang perlu diacungi dua jempol. Mereka begitu bersemangat untuk mengabdikan diri demi kemajuan bangsa ini.

Seiring dengan kemajuan zaman, semangat pengabdian ini mulai meluntur. Para guru mulai bergeser semangatnya. Mereka mulai mempertimbangkan untung-rugi setiap waktu yang digunakannya. Mereka benar-benar tidak mau merugi secara finansial. Oleh sebab itu, jadilah guru yang hanya bertujuan mengejar materi. Mereka tidak lagi menghayati profesi ini.

Wahai guru Indonesia, ayolah menjadi pendidik yang baik dan jangan hanya menjadi semata pengajar. Yakinlah bahwa rezeki kita akan menjadi berkah manakala niatan itu tulus dari ketuk hati terdalam. Marilah kita mengembalikan niatan mulia ini sedari semula!

Selamat pagi dan selamat mendidik anak bangsa. Semoga tulisan ini bermanfaat. Amin. Terima kasih.

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/

Categories: Berita Pendidikan, Kompetensi Paedagogik | Tinggalkan komentar

KRITERIA GURU YANG DIIDOLAKAN SISWA

Berdasarkan kesimpulan hasil angket yang disebar kepada seluruh siswa SMPN 3 Baradatu, sejumlah 107 orang  dari kelas 7, 8 dan 9, pada minggu ke-2  Maret 2010 yang dilakukan oleh Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMPN 3 Baradatu, Bapak Drs.Bagya Triyana,M.Pd dan Waka Kesiswaan Ibu Leli Triana,S.Pd yang telah disetujui oleh Kepala SMPN 3 Baradatu Bapak M.Zayadi,S.Pd dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran setiap anak didik atau siswa memiliki suatu harapan, keinginan disamping juga keluhan-keluhan terhadap gurunya.

Dari sudut pandang siswa, seperti apakah sosok seorang guru yang dapat menjadi idola siswa, dan apa saja yang menjadi penyebab sehingga seorang guru kurang disukai siswanya ?

Seperti yang disampaikan oleh ibu Leli Triana,S.Pd dalam Rapat Dinas Rutin bulanan  guru dan staf TU SMPN 3 Baradatu pada hari Kamis, 25 Maret 2010 dari pertanyaan tesebut dapat disimpulakan sebagaimana dibawah ini.Kriteria yang membuat siswa mengidolakan gurunya sbb

    1. Jelas dalam penyampaian materi pelajaran.
    2. Memberikan materi pelajaran dengan sabar dan mengayomi sehingga  mereka merasa terlindungi.
    3. Lembut dan santun bahasanya, tetapi tegas dalam menerapkan aturan yang berlaku dikelas.
    4. Dalam proses Belajar Mengajar (PBM) tidak tegang/serius dan materi didapat.
    5. Guru tidak pilih kasih, adil kepada setiap siswa laki-laki, perempuan, cantik, ganteng/jelek, kaya atau miskin.
    6. Penampilan sewajarnya, tidak berlebih-lebihan.
  1. Kriteria yang membuat siswa tidak/kurang menyukai gurunya sbb:
    1. Dalam menyampaikan materi tidak jelas / tidak nyambung.
    2. Dalam PBM hanya menyampaikan intruksi saja, tanpa variasi bahkan jarang ada pemberian/penjelasan materi dari guru tsb.
    3. Dalam pengelolaan kelas selalu dikuasai perasaan emosional negatif seperti:

-    Cerewet, marah-marah, tegang, tidak nyaman, dendam

-    Mengomel, mencubit, memukul, menampar dengan mudah,

-    Menghina siswa dengan perumpamaan nama binatang.

4.  Guru pilih kasih, tidak adil.

5.  Dalam PBM lebih banyak berceritanya diluar materi daripada    pemberian materi.

6.  Dalam PBM guru banyak meningalkan kelas.

7.  Penampilan guru berlebihan.

Effendy Akmal (admin)

Categories: Berita Sekolah, Kompetensi Paedagogik | Tinggalkan komentar

PEMIKIRAN KREATIF

PEMIKIRAN KREATIF
Oleh : Muhammad Fahruddin S.IP
http://www.kpg-jogjakartaindonesia.com
Buku Kelvin Seifert

Kreatifitas adalah usaha menghasilkan gagasan-gagasan, aktivitas-aktivitas dan obyek-obyek baru., mengigat bahwa pada tingkatan-tingkatan tertentu kreatifitas merupakan sebuah bentuk proses berfikir. Sebuah sudut pandang menjelaskan kreatifitas sebagai pemikiran bercabang, kemampuan menghasilkan sebuah variasi yang terdiri aneka solusi, meskipun aneh tidak biasa, terhadap masalah. Pemikiran bercabang seringkali dilawankan dengan pemikiran terpusat, pemikiran terpusat adalah kemampuan menghasilkan sebuah solusi yang baik bagi sebuah masalah. Sebagian masalah cenrung membutuhkan pemikiran bercabang: dan sebagian yang lain membutuhkan pemikiran terpusat. Dan sebagian individu memiliki kecendrungan untuk memberikan solusi terpusat dan sebagian yang lain, solusi bercabang terlepas dari masalah apapun yang sedang dihadapi.. Mengingat instruksi lebih menghargai pemecahan masalah secara terpusat, maka para siswa yang memiliki kreatifitas terkesan sering terabaikan.
Pemikiran bercabang memiliki empat buah fitur penting. Yang pertama adalah Kefasihan, Kemampuan menghasilkan aneka respon, tanpa intrupsi eksternal, terhadap sebuah stimulasi atau masalah. Kedua Fleksibilitas, Kemampuan untuk mendekati sebuah masalah dari berbagai sudut tanpa terpaku pada sebuah sudut tertentu. Ketiga Orisinilitas, kemampuan menciptakan sebuah respon unik atau tidak lazim. Keempat Keluasaan, Kemampuan menambahkan kekayaan atau aneka detail terhadap sebuah respon.
Pengajar atau guru menganjurkan perilaku dan pemikiran kreatif dalam sejumlah cara Pertama, cara ini mungkin yang paling nyata, dimana para guru bias memberikan hadiah terhadap gagasan-gagasan dan kegiatan-kegiatan orisinil setiap kali gagasan atau kegiatan tersebut muncul. Cara tersebut terkadang lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan cara-cara lain. Misalnya, Cara tersebut mungkin lebih mudah digunakan dalam kelas seni atau menulis, saat dimana para siswa akan menjadi kretif dengan sendirinnya. Sebaliknya cara tersebut sangat mungkin digunakan dalam sebuah diskusi yang terfokus, dimana para guru mencoba menyampaikan pemikiran-pemikiran tertentu kepada siswa, sehingga komenytar bercabang dari para siswa akan lebih terkesan sebagai sebuah kreatifiras.
Diposkan oleh KOMUNITAS PENA GURU di 05:12 0 komentar
Sabtu, 19 April 2008
EMPAT KOMPETENSI YANG HARUS DIMILIKI GURU
Ditulis oleh jufrisyahruddin di/pada Juli 18, 2007
PASAL 28 ayat 3 Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan secara tegas dinyatakan bahwa ada empat kompetensi yang harus dimiliki guru sebagai agen pembelajaran. Keempat kompetensi itu adalah kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi professional dan kompetensi social.
Dalam Panduan Sertifikasi Guru bagi LPTK Tahun 2006 yang dikeluarkan Direktur Ketenagaan Dirjen Dikti Depdiknas disebutkan bahwa kompetensi merupakan kebulatan penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang ditampilkan melalui unjuk kerja.
Kepmendiknas No. 045/U/2002 menyebutkan kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggungjawab dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu. Jadi kompetensi guru dapat dimaknai sebagai kebulatan penetehuan, keterampilan dan sikap yang berwujud tindakan cerdas dan penuh tanggungjawab dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran.
Kompetensi pedagogic adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Di sini ada empat subkompetensi yang harus diperhatikan guru yakni memahami peserta didik, merancang dan merancang pembalajaran, melaksanakana evaluasi dan mengembangkan peserta didik. Memahami peserta didik mencakup perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor dan mengetahui bekal awal peserta didik.
Sementara itu, merancang pembelajaran dimaksudkan bahwa guru harus mampu membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan kemudian bisa mengaplikasikan rancangan itu di dalam proses pembelajaran sesuai alokasi waktu yang sudah ditetapkan. Di samping itu, guru mesti memiliki kemampuan melakukan evaluasi baik dalam bentuk “on going evaluation” maupun di akhir pembelajaran. Sementara itu, mengembangkan peserta didik bermakna bahwa guru mampu memfasilitiasi peserta didik di dalam mengembangkan potensi akademik dan non akademik yang dimilikinya.
Yang dimaksud dengan komptensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Subkompetensi mantap dan stabil memiliki indicator esensial yakni bertindak sesuai dengan hokum, bertindak sesuai dengan norma social, bangga menjadi guru dan memiliki konsistensi dalam bertindak dan bertutur.
Guru yang dewasa akan menampilkan kemandirian dalam bertindak dam memiliki etos kerja yang tinggi. Sementara itu, guru yang arif akan mampu melihat manfaat pembelajaran bagi peserta didik, sekolah dan masyarakat, menunjukkan sikap terbuka dalam berfkir dan bertindak. Berwibawa mengandung makna bahwa guru memiliki prilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan perilaku yang disegani.
Yang paling utama dalam kepribadian guru adalah berakhlak mulia. Ia dapat menjadi teladan dan bertindak sesuai normaagama (iman, dan taqwa, jujur, ikhlas dan suka menolong serta memilki perilaku yang dapat dicontoh.
Kompetensi professional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan. Guru harus memahami dan menguasai materi ajar yang ada dalam kurikulum, memahami struktur, konsep dan metode keilmuan yang yang koheren dengan materi ajar, memahami hubungan konsep atarmata pelajaran terkait dan menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, guru juga harus menguasai langkah-langkah penelitian, dan kajian kritis untuk memperdalam pengetahuan dan meteri bidang studi.
Kompetensi social merupakan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kepentidikan, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Guru tidak bisa bekerja sendiri tanpa memperhatikan lingkungannya. Ia harus sadar sebagai bagian tak terpisahkan bagi dari masyarakat akademik tempat dia mengajar maupun dengan masyarakat di luar.
Ia harus memiliki kepekaan lingkungan dan secara terus menerus berdiskusi dengan teman sejawat dalam memecahkan persoalan pendidikan. Guru yang jalan sendiri diyakini tidak akan berhasil, apalagi jikalau dia menjaga jarak dengan peserta didik. Dia harus sadar bahwa inteaksi guru dengan siswa mesti terus dihidupkan agar tercipta suasana belajar yang hangat dan harmonis.
Keempat kompetensi di atas merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Masing-masingnya bukanlah hal yang berdiri sendiri-sendiri. Justru itu, antara kompetensi pedagogic, kepribadian, professional dan social akan saling menunjang dan bisa tampak secara utuh dalam proses pembelajaran di dalam kelas dan pergaulan di luar kelas.
Di dalam pelaksanaan proses sertifikasi kompetensi ini akan menjadi penilaian dan tolok ukur keberhasilan seorang guru. Artinya, hanya guru yang kompeten dan terampillah yang akan lolos dalam sertifikasi. Justru itu, kalau guru ingin mendapat sertifikat pendidik, ia harus bekerja keras baik di dalam menyiapkan materi ajar maupun dalam proses pembelajaran itu sendiri. Ia pun harus mampu menampilkan sosok pendidik yang disegani dan diteladani serta menjadi pemuka di dalam masyarakat. (
Diposkan oleh KOMUNITAS PENA GURU

Categories: Kompetensi Paedagogik | Tinggalkan komentar

Ilmu Teknologi Pendidikan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)

Ilmu Teknologi Pendidikan 

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)

Sebelum kita dapat membahas isu-isu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) kita perlu membahas secara lebih dalam isu-isu dan prioritas untuk pendidikan yang bermutu dan tujuannya KBM dalam proses mengarah ke pendidikan yang bermutu.

Apakah tujuan KBM adalah untuk menyampaikan informasi tertentu (pengetahuan) atau mengajar salah satu “skill” (keterampilan) kepada pelajarnya? Atau ada tujuan yang lebih luas?

Kami masih ingat pada waktu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) baru muncul di Indonesia secara formal. Di lapangan banyak guru sedang bingung. Bingung karena ada beberapa hal termasuk banyak kompetensi yang disebut dalam kurikulum yang bukan kompetensi, atau sangat sulit diukur. Salah satu masalah besar adalah guru-guru bingung karena mereka tidak dapat percaya bahwa mereka akan punya cukup waktu untuk mengajar les masing-masing untuk menyampaikan dan “assess” (menilaikan) begitu banyak kompetensi.

Padahal ini bukan masalah karena kita tidak perlu mengajar kompetensi-kompetensi itu masing-masing. Di dalam satu kelas kita dapat mengajar beberapa kompetensi sekalian dan juga assess beberapa kompetensi sekalian.

Sebenarnya di setiap kelas kita wajib untuk mengajar sebanyak kompetensi mungkin dalam waktunya bila memakai KBK atau tidak.

Apa itu Pendidikan Yang Bermutu?

Sebetulnya ada banyak definisi untuk pendidikan yang bermutu tetapi kami merasa bahwa definisi ini dari UNICEF (di bawah) adalah cukup lengkap:

  • Pelajar yang sehat, mendapat makanan bergizi yang cukup dan siap berpartisipasi dalam proses belajar, yang didukung dalam proses pembelajaran oleh keluarga dan linkungannya.
  • Environmen yang sehat, aman, melindungi dan “gender-sensitive”, dan menyediakan sumber-sumber pembelajaran dan fasilitas yang cukup.
  • Konten dalam kurikulum dan bahan pembelajaran yang relevan untuk belajar “basic skills”, khusus “literacy, numeracy and skills for life”, dan pengetahuan mengenai isu-isu seperti “gender, health (kesehatan), nutrisi, HIV/AIDS prevention and peace (kedamaian)”.
  • Proses-proses di mana guru-guru yang terlatih menggunakan sistem pembelajaran “child centered” di kelas dan sekolah yang di-manage dengan baik dan di mana ada penilaian yang baik untuk melaksanakan pembelajaran dan menurunkan isu-isu perbedaan.
  • Outcomes yang termasuk pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap, dan berhubungan dengan tujuan-tujuan (goals) nasional untuk pendidikan dan partisipasi sosial yang positif.

Bagaimana kita dapat melaksanakan Pendidikan yang Bermutu di Indonesia?

Yang pertama kita harus sadar bahwa kesehatan adalah isu pendidikan. Itu sebabnya Pendidikan Network mempunyai bagian berita khusus “Pendidikan & Kemiskinan” karena isu-isu kemiskinan dan kesehatan adalah dua faktor yang sangat mempengaruhi mutu pendidikan (untuk semua) di negara kita.

Environmen yang sehatPuluhan ribu sekolah di negara kita adalah rusak atau ambruk. Kalau kita menuju pendidikan yang bermutu “untuk semua” ini harus sebagai prioritas utama terhadap keadilan di bidang pendidikan. Walapun sumber-sumber pembelajaran dan fasilitas adalah isu yang sangat penting semua siswa-siswi di Indonesia berhak untuk mengakses sekolah yang aman dan nyaman.

Konten dalam kurikulum dan bahan pembelajaran yang relevan untuk belajar basic skills“. Kurikulum adalah isu yang terus perlu ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan siswa-siswi untuk menghadapi masa depan dengan keberanian dan kreativitas, kalau negara kita berharap kemajuan.

Biasanya ada tiga kurikulum sebetulnya; kurikulum nasional, kurikulum daerah (mungkin konten lokal termasuk bahasa), dan kurikulum sekolah (mencerminkan keinginan dan kebutuhan lingkungan sekolah termasuk masyarakat dan industri). Kurikulum sekolah adalah isu yang sangat penting dan dapat di bentukkan dalam kegiatan ekstra-kurikular untuk menambah pembelajaran agama, sosial, kemandirian, keterampilan yang berhubungan dengan industri lokal (kejuruan), dll. Kurikulum sekolah dapat sangat membantu dengan isu-isu mutu SDM.

Proses-proses di mana guru-guru yang terlatih menggunakan sistem pembelajaran child centered
Apa maksudnya “child centered”? Child centered adalah sistem pembelajaran di mana fokus pembelajaran adalah dengan pelajar bukan guru. Guru sebagai fasilitator atau manajer proses pembelajaran. Misalnya di TK guru-guru sering mengajar anak-anak lewat kegiatan mainan. Di dalam kegiatan-kegiatan ini adalah pembelajaran misalnya pembelajaran isu sosial, hitung, bergambar, cerita dalam kata-kata sendiri, keterampilan kreativitas, dll.

Di tingkat SD sampai SMP sudah ada banyak contoh dan bukti penghasilan dari proses “Child Centered Learning” yang disebut Pengajaran Aktif, Kreatif, Efektif yang Menyenangkan (PAKEM) atau Pembelajaran Kontekstual di situs Basic Education (MBE).

Di tingkat SMU kita masih dapat menyaksikan banyak kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah menengah yang belum Student Centered. Mungkin karena masih banyak guru belum kenal dengan proses, atau seperti kami sudah mendengar di lapangan bahwa guru-guru masih ragu-ragu bahwa mereka dapat selesai menyampaikan kurikulum dalam waktunya kalau menggunakan proses PAKEM. Padahal lewat proses PAKEM siswa-siswi dapat belajar sangat cepat maupun enjoy (nikmat) pembelajaran sambil menambah pembelajaran “life skills” misalnya manajemen, kemandirian, penelitian, dll, sambil belajar topik utama#.

#Ingat di atas bahwa kami sebutdi setiap kelas kita wajib untuk mengajar sebanyak kompetensi mungkin dalam waktunya bila memakai KBK atau tidak

Ini adalah salah satu isu yang sangat membedakan sekolah nasional dengan sekolah internasional. Beberapa sekolah nasional sudah melaksanakan proses pembelajaran kontekstual misalnya Madania di Parung, Bogor, Jawa Barat.

Di Perguruan Tinggi kita dapat menyaksikan kegiatan belajar mengajar di kebanyakan kelas yang paling pasif. Proses pembelajarannya biasanya sangat ‘dosen centered’ dengan mahasiswa/i dalam keadaan DM (duduk manis) dan jarang terkait dalam proses pembelajaran.

Apakah harus begini? Pasti Tidak!

Dosen-dosen, sama dengan guru-guru di sekolah, wajib untuk mengaktifkan mahasiswa/i dalam proses pembelajaran. Kita perlu menggunakan strategi-strategi, walapun kelasnya adalah besar, di mana mahasiswa/i adalah seaktif mungkin dalam proses pembelajaran.

Apakah anda yang dosen yang membaca ini pernah ikut program seminar yang ceramah atau pidato sepanjang hari? Apakah anda ingin tidur atau pulang? Sekarang kebanyakan presenter menggunakan laptop dan data projector. Apakah ada bedanya? Setelah dua atau tiga presentasi apa anda ingin tidur atau pulang juga? Sama saja kan?

Yang akan paling meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia adalah kalau kita di semua tingkat pendidikan menghidupkan/mengaktifkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), bukan isu seperti teknologi.

Teknologi Pendidikan adalah alat bantu untuk di mana ada kesempatan untuk meningkatkan mutu KBM, tetapi teknologinya harus cocok dan tidak perlu terlalu canggih. Kalau kita sering menggunakan teknologi yang sama, bila paling canggih, pelajar kita juga akan cepat mulai bosen. Sering teknologi yang paling membantu tujuan KBM kita adalah yang paling sederhana.

Categories: Kompetensi Paedagogik | Tinggalkan komentar

Buat website atau blog gratis di WordPress,com. The Adventure Journal Theme.

%d bloggers like this: